Meluruskan Logika Mainstream

Judul di atas adalah sebuah tagar yang saya gunakan setiap kali mengangkat status di sosial media tentang sesuatu yang merupakan “logika publik,” tapi acap kali bertentangan dengan “common sense,” setidaknya menurut anggapan saya. Tagar tersebut kemudian saya pinjam sebagai judul tulisan ini untuk mengangkat sebuah fenomena yang tengah melanda masyarakat Indonesia belakangan ini. Boleh lah disebut sebagai fenomena “kamuflase massif” mengingat tidak begitu jelas apa yang bisa disebut sebagai hal-hal abstrak, dan apa pula yang bisa dianggap kongkrit.

Berawal dari sebuah narasi cukup menarik berjudul “Logika Saut dan Harga Sebuah Mulut” yang ditulis seorang member Qureta dengan akun Haz Algebra, maka munculah tulisan ini. Tapi tulisan ini tidak ditujukan untuk “menggugat” narasi tersebut, sekedar menegaskan bahwa narasi itu kembali mengingatkan saya pada fenomena yang saya sebuat sebagai “kamuflase massif” di atas.

Memang, beberapa hari terakhir berita dengan tema “Saut vs HMI” seakan tak pernah henti menghiasi media. Dipicu oleh “salah ucap” yang dilakukan Saut tentang HMI dengan durasi kurang dari lima belas detik, faktanya telah mendorong gerakan massif ribuan kader HMI di seluruh tanah air. Alih-alih dilakukan kader HMI, atas nama solidaritas aktifis bahkan organisasi kemahasiswaan lainnya turut mengecam ucpan Saut. Mungkin itu harga yang harus dibayar seorang public vigur seperti Saut, agar sedikit berhati-hati menyampaikan pandangan.

Saya sendiri tidak melihat langsung adegan yang diduga bersumber dari Talk Show salah satu televisi swasta yang ditayangkan pada tanggal 5 Mei 2016 itu. Saya berusaha mencarinya dari berbagai sumber karena merasa tertarik dengan isu yang cukup menyita perhatian publik itu. Saya mendapatkannya, dan memastikan kurang dari lima belas detik Saut menyinggung soal HMI, tapi sudah berhari-hari energi dicurahkan untuk menyikapi “tudingan” Saut tersebut.

Saut dan HMI bukanlah stressing point saya pada tulisan ini. Tema tersebut hanya sebuah pemantik yang turut menyalakan semangat saya untuk mengutip narasi berserak dari tagar bertajuk “Meluruskan Logika Mainstream” yang pernah saya tulis di sosial media, menjadi narasi yang mungkin jauh lebih utuh dan sempurna. Setidaknya, dari sanalah saya menemukan konteks untuk menegaskan apa sesungguhnya yang saya maksud dengan “meluruskan logika mainstream.”

Belakangan ini sebagian masyarakat Indonesia kelihatannya cukup mudah “tersinggung” dengan hal-hal yang bersifat “klise.” Jauh sebelum peristiwa Saut dan HMI, negeri ini juga pernah digegerkan oleh tindakan Zaskia Gotik yang dianggap menghina simbol Negara. Tidak main-main, sejumlah elemen masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, melaporkannya ke pihak yang berwajib. Mulai dari anggota LSM, wakil rakyat yang terhormat, pengacara kaliber, hingga seorang para normal, tak ingin ketinggalan dengan isu tersebut.

Jelas tidak patut diteladani, tapi saya bisa memaklumi tindakan Zaskia Gotik sebagai “prilaku entertainer,” tidak dengan sengaja disertai niat untuk melakukan penghinaan terhadap simbol Negara. Saya tidak sedang berdiri sebagai pembelanya, tapi tidak juga mengamini pelaporan atas “penghinaan” yang dilakukannya. Energi bangsa ini terlalu besar terbuang sekedar untuk kasus “recehan” semacam itu. Saya cukup mengatakan: “lawakan kurang cerdas, bukan selera saya.”

Beberapa waktu setelah itu, publik digegerkan lagi dengan munculnya simbol-simbol PKI. Seorang yang diduga pimpinan salah satu LSM bahkan pernah “menghakimi sendiri” pengguna simbol palu-arit itu. Bahkan saya tidak begitu yakin pengguna simbol memahami dengan baik bahwa atribut yang digunakannya punya sejarah masa lalu yang kelam dengan bangsa ini. Tapi, apapun alasannya, tindakan “main hakim sendiri” juga bukan sikap yang dapat dibenarkan.

Baik kasus Zaskia Gotik, “pemukulan” terhadap pengguna simbol palu-arit, hingga kasus “salah ucap” Saut Situmorang yang terakhir, pada kenyataannya terjadi dalam frame “penghinaan,” ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas “penghinaan” itu. Tapi kerugian itu sendiri sulit diukur dalam bentuk seperti apa (abstrak). Hal semacam itulah yang saya anggap “logika terbalik” sehingga penting diluruskan.

Ambilah contoh yang jauh lebih kongkrit, semisal pelayanan publik yang terhambat karena rumitnya sistem birokrasi, siapa yang pernah merasa dirugikan sehingga mampu melahirkan gerakan massif seperti halnya kasus-kasus abstrak yang disebutkan tadi?. Jalan rusak dan berlubang, BPJS gratis yang tidak tepat sasaran, atau pemadaman listrik secara tiba-tiba, siapa yang pernah pernah menyuarakan itu untuk menyita perhatian publik?. Atau mungkin—meminjam bahasa para aktifis—itu tidak termasuk “isu yang seksi.”

Logika mainstream adalah logika kebanyakan orang, logika yang seringkali bertentangan dengan akal sehat. Ada banyak orang siap “saling bunuh” untuk membela calon pemimpinnya, tapi suara mereka sunyi ketika pemimpin tersebut “ingkar janji,” tidak ada yang pernah merasa dirugikan. Karenanya, meluruskan logika mainstream menjadi sangat penting, agar seluruh elemen bangsa di negeri ini mengerti apa yang patut diperjuangkan, apapula yang semestinya diabaikan untuk tidak membuang energi terlalu besar.


Tulisan ini telah dimuat di laman Qureta pada tanggal 10 Mei 2016. Lihat di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s